2007-03-05

Gmail Theater: Why Use Gmail?

Beberapa hari yang lalu aku nonton sebuah film yang cukup menarik. Menontonnya bukan di sebuah bioskop atau teater yang mewah, melainkan cukup di sini saja. Nomat. Nonton hemat tidak hanya di hari Senin.
(Di mana coba??)

Mas-masnya keren, membuat film model beginian. Sebagai pengguna Gmail sejak zaman berjuang, aku benar-benar merasa sangat terhibur. Teringat akan nostalgia romantisme bersama Gmail dahulu kala. Hingga menjadi Gmail yang sekarang ini.
(Halah, emang Gmail lahir tahun berapa, coba? Baru kemarin sore gitu kok!)

Terima kasih mas Jaya. Yang telah memberikan invitasi Gmail padaku. Saat itu sungguh sulit untuk memiliki account Gmail. Bahkan sampai ada yang memperjual-belikan invitasi segala. Blog-mu pindah ngendi to, Mas?

Terima kasih Gmail. Yang telah memberitahu mengenai rilis film ini.
(Hayyah!)

Chat pakai GoogleTalk yuk. Sudah pada punya account Google, kan? Sekarang sudah tidak perlu invitasi lho. Bisa mendaftar langsung.

2007-02-19

Survei Mushola dalam Mal

Setelah membaca cerita seorang kawan dan kawan satunya lagi, aku baru menyadari kalau ternyata juga memiliki kesenangan ini.

Apakah sebagian besar mushola yang ada di dalam mal bernasib sama? Lokasi tidak strategis, ukuran kurang lega, suasana kurang nyaman, berisik karena ada blower yang nyempil di dalam, ...

2007-02-07

Akses Jaringan

Suatu hari seorang kawan bertanya padaku, "Apa saja yang diperlukan untuk kebutuhan pengguna seperti dirimu?" Ini adalah sebagai masukan untuk pengembangan rilis berikutnya.

Kemudian kuberitahukan beberapa hal.

Akses internet di kos:
Biasanya aku pakai GPRS saat ingin cek pesan di instant messenger. Saat keinginan tersebut tidak bisa ditunda. Sudah ngebet banget gitu deh. Dan saat ingin kirim imel yang cukup "penting", harus dikirim segera. Dulu sebelum Knoppix menyertakan fitur akses via GPRS, GPRS bisa diakses seperti halnya akses via dial up telefon kabel. Tinggal menyeting koneksi modem (ponsel dianggap sebagai modem eksternal), setting APN, dan juga nomor akses (tergantung operator yang digunakan).

Kalau sekarang (di kantor), perlu aplikasi untuk koneksi ke server database (biasanya pakai Remote Desktop Connection). Di Kuliax kan sudah ada Krdc. Setelah kutambahi rdesktop, Krdc di Kuliax baru bisa terhubung ke server tersebut.

Sistem operasi server database adalah MS Windows 2000 Server. Kuliax yang kuinstal adalah satu-satunya komputer Linux di kantor ranting ini. Sepertinya hanya itu di tingkat cabang. Mungkin juga satu-satunya di tingkat atasnya lagi. Yang lain adalah komputer-komputer berjendela. :)

2006-12-16

Test Drive Kuliax

Barusan saya mencoba Kuliax. Awalnya sengaja saya boot secara default (langsung tekan tombol Enter).
jret jret jret...
Terus muncul splash screen.
Kemudian...
Eh, loh, eh...
Monitor saya (LG Studioworks 505G) tidak mampu menampilkan gambar.
"Wah, iki frekuensiné mesthi kegedhén," pikir saya.

Lalu saya boot ulang, tetap dengan setting default namun saat muncul splash screen saya tekan tombol Esc. "Lha dalah, lak yo tenan to, frekuensiné gedhé banget, 85 Hz."

Lalu saya boot ulang lagi, saya coba ubah setting frekuensinya (parameter vsync dan hsync). Angka yang dimasukkan agak sedikit asal gitu deh, tidak tahu perbandingan frekuensi vertikal dengan horizontal itu berapa. Pokoknya masih dalam batas toleransi yang mampu ditampilkan oleh monitor.

Akhirnya bisa sukses. "Tapi kenapa cuma 60 Hz sih? Mata bisa mudah lelah nih. Ah, kapan-kapan waé ngubahé. Saiki dolanan dhisik."

Setelah video agak beres, kini saatnya mencoba audio. Saya buka pemutar lagu favorit, XMMS. Saya mainkan sebuah lagu. Langsung main, kotak visualisasi juga ikut bergoyang. "Lho, suarané endi?"

Saya naikkan volume suara, tetap membisu. Saya buka preferensinya.
Ooo... pakai ALSA, saya biasanya pakai yang OSS. Meskipun diganti tetap tidak ada perubahan. Kemudian saya buka mixer, pakai KMix. "Lho, kok di-mute? Wah, si Iwan ki piyé to, mosok di-mute? Mesthi pas awal loading X11 ki mau yo ono suarane."

Belum banyak yang saya eksplorasi dari distro ini, saya matikan komputer dulu. Toweweweng... terdengar musik proses shutdown dari speaker. "Tenan ki, mesthi sing isik mau yo ono suarané!"