Ini senandung favoritku yang lain. Dilantunkan oleh The Fikr. Waktu itu belum ada Tazakka. Salah seorang mantan kawan kos juga suka dengan senandung ini. Selamat datang kembali ke fitrah kita sebagai manusia.
Hidayah jangan hanya ditunggu, namun juga harus kita usahakan untuk meraihnya
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
Sedari dulu hati ini pun merindu
akan ketenangan jiwa ketentraman hidup
Di mana lagi aku temukan arti sebuah hidup
Ke mana lagi kudapati cinta yang hakiki
Ternyata datangnya sinaran
seiring kesungguhan mencari jalan
kebenaran jalan keridhoan
Akan selalu kusyukuri nikmat yang telah diberi
petunjuk hidayah suci Ilahi Robbi
Akan selalu kusyukuri nikmat yang telah diberi
petunjuk hidayat suci Ilahi
hamba 'kan mengabdi
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
Bukan sekadar "Ryan", melainkan "ryan_oke". Pernah jadi seorang "Kelompok Pengguna GNU/Linux Indonesia" (KPLI Jogja) dan "Forum Lingkar Pena" (FLP Yogyakarta).
2007-03-22
Tak Seindah Sentuhan Mata
Salah satu senandung favorit yang dulu dilantunkan oleh The Zikr. Dulu (waktu SMU, Klaten) masih sulit mendengarkan senandung ini di radio. Kami (anak-anak kos mbah Karto) tahunya hanya radio Persatuan (Yogya) yang biasa memutar senandung model beginian selepas berita jam 19 hingga jam 20.
Senandung yang sama, dengan aransemen ulang bertajuk "Suci Sekeping Hati" dilantunkan oleh Saujana.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
Sekeping hati dibawa berlari
Jauh melalui jalan nan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang
Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa
Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang menatap
Pada debu yang pastikan hinggap
Mengharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
Senandung yang sama, dengan aransemen ulang bertajuk "Suci Sekeping Hati" dilantunkan oleh Saujana.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
Sekeping hati dibawa berlari
Jauh melalui jalan nan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang
Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa
Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang menatap
Pada debu yang pastikan hinggap
Mengharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
2007-03-15
Kangen ukhti Mardliyyah?
Sejak pindah kantor, lama sekali aku tidak main lagi ke masjid Mardliyyah dan Al Mujahidin. Di Mardliyyah ada kajian pagi (jam 6 1/4) setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Aku biasanya ikut yang Kamis dan Sabtu. Kalau yang Selasa itu khusus untuk putri, jadi aku tidak boleh ikut. Apa mau menyamar pakai kerudung? (Gubrag!!!) Tapi masih kelihatan jenggotnya. Pakai cadar sekalian??
Dulu aku sering ke Al Mujahidin saat Dhuhur atau Ashar. Aku ke sana biasanya karena mau numpang baca Republika. Soalnya di tempat bapak kos maupun warung makan itu korannya Ka-eR... mulu. Selainnya itu paling-paling Kom******pas***.
Kini, masjid kampus yang masih aku kunjungi (meski tidak terlalu sering) adalah Masjid Kampus UGM. Di sini ada mas-mas yang jualan buku dan majalah. Harganya bisa dikatakan murah karena dijual dengan harga normal. Normal untuk ukuran Yogya lho. Alias serba diskon. Sebelum atau selepas sholat kuhabiskan banyak waktu untuk melihat-lihat buku dan majalah yang ada. Juga numpang baca (sedikit).
Dulu aku sering ke Al Mujahidin saat Dhuhur atau Ashar. Aku ke sana biasanya karena mau numpang baca Republika. Soalnya di tempat bapak kos maupun warung makan itu korannya Ka-eR... mulu. Selainnya itu paling-paling Kom******pas***.
Kini, masjid kampus yang masih aku kunjungi (meski tidak terlalu sering) adalah Masjid Kampus UGM. Di sini ada mas-mas yang jualan buku dan majalah. Harganya bisa dikatakan murah karena dijual dengan harga normal. Normal untuk ukuran Yogya lho. Alias serba diskon. Sebelum atau selepas sholat kuhabiskan banyak waktu untuk melihat-lihat buku dan majalah yang ada. Juga numpang baca (sedikit).
2007-03-14
Mencari Jalan Menuju Cahaya
Orang-orang kebingungan mencari cahaya. Berjalan, berlari, kadang juga ada yang mengendap-endap dan melangkah dengan sangat hati-hati dalam kegelapan. Mereka tidak mempunyai cahaya. Mereka sedang mencari cahaya untuk menerangi perjalanannya. Untuk menyinari kehidupannya. Tetapi sungguh mengherankan ketika pada saat yang sama, sebagian besar umat kita justru sedang terlelap di bawah naungan cahaya. Mereka tertidur dengan pulas dan nikmat dalam nuansa bermandikan cahaya, sementara orang lain sedang sibuk mencari cahaya dalam gelap gulita. Dua macam kegelapan yang jelas berbeda.
Subscribe to:
Comments (Atom)