Beberapa bulan terakhir ini baru kusadari kalau ada komentar spam yang menggunakan bahasa Indonesia. Bukan cuma bahasa Indonesia baku, melainkan ada juga yang menggunakan bahasa percakapan yang lebih gaul.
CMS yang digunakan adalah WordPress.
Beberapa komentar yang sempat dicatat:
(nomor_IP: isi_komentar)
150.165.238.114: Tapi, tanpa diketahui Andrea, Syahdan kawan kecilnya yg sekarang sudah jadi IT Manager itu nakal mengirimkan naskah Laskar Pelangi ke penerbit.
173.168.125.244: Penelitian berhasil menemukan 5 tema melalui pengamatan, 11 tema melalui wawancara, dan 8 tema lewat kajian dokumen.
150.165.238.114: dan sekarang ini saya sedang beristirahat bentar di plaza foodcourtnya ugm mbil nunggu bapak yang di lab biotek TP UGM siap.
74.192.94.174: Pada kedua Syurga itu terdapat dua macam dari tiap tiap jenis buah buahan yang biasa dan yang luar biasa .
173.2.1.57: Gue pernah baca artikel, entah beneran atau rumor, kalo setiap orang punya 7 orang yang tersebar di seluruh dunia yang miriiiiip banget sama dia.
Bukan sekadar "Ryan", melainkan "ryan_oke". Pernah jadi seorang "Kelompok Pengguna GNU/Linux Indonesia" (KPLI Jogja) dan "Forum Lingkar Pena" (FLP Yogyakarta).
2012-01-22
2011-12-08
Tampilan Baru
Hari kemarin saya memperbarui aplikasi Google Maps yang ada di ponsel. Versi terbaru tersebut adalah 6.0.0. Perbedaan yang langsung terlihat dari versi sebelumnya adalah tampilan antarmuka.

Ada fitur menarik dari versi baru ini[0]:
- Indoor maps (beta) are now available for select airports, shopping malls, and more. Learn more at g.co/indoormaps
- Menu added to the top toolbar for easy switching between common features.
- Updated home screen for Places, now with popular searches based on your location.
- Option to disable automatic screen dimming for Navigation.
Indoor maps belum saya coba cari lokasinya di mana.
Saat mencoba fitur Navigation, masih belum tersedia untuk Indonesia. Namun kabarnya fitur ini dapat diaktifkan dengan trik tertentu (belum saya coba).
Saat saya menulis ini, ternyata sudah muncul versi yang lebih baru (6.0.1):
Bug fixes for certain newer devices.
[0]https://market.android.com/details?id=com.google.android.apps.maps

Ada fitur menarik dari versi baru ini[0]:
- Indoor maps (beta) are now available for select airports, shopping malls, and more. Learn more at g.co/indoormaps
- Menu added to the top toolbar for easy switching between common features.
- Updated home screen for Places, now with popular searches based on your location.
- Option to disable automatic screen dimming for Navigation.
Indoor maps belum saya coba cari lokasinya di mana.
Saat mencoba fitur Navigation, masih belum tersedia untuk Indonesia. Namun kabarnya fitur ini dapat diaktifkan dengan trik tertentu (belum saya coba).
Saat saya menulis ini, ternyata sudah muncul versi yang lebih baru (6.0.1):
Bug fixes for certain newer devices.
[0]https://market.android.com/details?id=com.google.android.apps.maps
2011-12-01
BlankOn Pindah ke Debian
Beberapa waktu lalu ada kabar menarik. BlankOn akan berpaling dari Ubuntu ke Debian.[0]
Permasalahan yang akan muncul jika tetap menggunakan Ubuntu adalah:
- Destop GNOME sudah sedemikian diubah alur UX-nya di Ubuntu, tidak sejalan dengan alur UX BlankOn.
- Perubahan di Ubuntu tidak lagi menjamin alur UX BlankOn konsisten di masa depan.
Dengan berpindahnya BlankOn ke Debian, maka diharapkan:
- Berkelanjutan: Meminimalisasi terhentinya proyek.
- Debian lebih cocok karena lebih murni: Mudah untuk berkreasi di atasnya. Kustomisasi dilakukan via konfigurasi program.
- Fokus: Pengembang bisa lebih fokus ke UX daripada mengurusi distro dasar.
Meski mirip, para pengembang tetap perlu mempelajari lebih dalam tentang Debian.
Permasalahan yang akan muncul jika tetap menggunakan Ubuntu adalah:
- Destop GNOME sudah sedemikian diubah alur UX-nya di Ubuntu, tidak sejalan dengan alur UX BlankOn.
- Perubahan di Ubuntu tidak lagi menjamin alur UX BlankOn konsisten di masa depan.
Dengan berpindahnya BlankOn ke Debian, maka diharapkan:
- Berkelanjutan: Meminimalisasi terhentinya proyek.
- Debian lebih cocok karena lebih murni: Mudah untuk berkreasi di atasnya. Kustomisasi dilakukan via konfigurasi program.
- Fokus: Pengembang bisa lebih fokus ke UX daripada mengurusi distro dasar.
Meski mirip, para pengembang tetap perlu mempelajari lebih dalam tentang Debian.
Tambahan [2011.12.02 10:10]:
2011-08-23
Senter
Saat mudik (mungkin setahun yang lalu), di rumah kulihat ada lampu senter dengan baterai isi ulang. Lampunya menggunakan beberapa buah LED, bukan bohlam/lampu pijar. Kalau nyala lampu mulai redup, tinggal disambungkan ke stop kontak untuk mengisi baterainya. Harganya sekitar Rp 25.000.
Sudah lama lampu senter LED dengan baterai AAA yang kumiliki tidak mau menyala. Sudah diutak-atik tetap saja mati. Kemungkinan lampunya yang bermasalah karena sering terjatuh.
Lalu tertarik untuk membeli lampu senter isi ulang seperti di rumah. Saat mau beli di toko listrik dekat rumah, kebetulan pas sedang habis. Ya sudah, kapan-kapan saja belinya.
Saat berada di sebuah toko besar untuk membeli sesuatu, kucoba melihat-lihat lampu senter di bagian alat listrik. Yang isi ulang ada banyak macamnya. Mulai dari harga Rp 15.000 hingga Rp 50.000. Karena terlalu banyak, malah jadi bingung memilih.
Sudah lama lampu senter LED dengan baterai AAA yang kumiliki tidak mau menyala. Sudah diutak-atik tetap saja mati. Kemungkinan lampunya yang bermasalah karena sering terjatuh.
Lalu tertarik untuk membeli lampu senter isi ulang seperti di rumah. Saat mau beli di toko listrik dekat rumah, kebetulan pas sedang habis. Ya sudah, kapan-kapan saja belinya.
Saat berada di sebuah toko besar untuk membeli sesuatu, kucoba melihat-lihat lampu senter di bagian alat listrik. Yang isi ulang ada banyak macamnya. Mulai dari harga Rp 15.000 hingga Rp 50.000. Karena terlalu banyak, malah jadi bingung memilih.
Subscribe to:
Comments (Atom)